Siapa Bilang jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya Bagian 13


Beberapa hari sebelum saya menulis Kiat Nomor 5 ini, salah seorang staf saya
di kantor berniat pulang ke rumah. Tak disangka turun hujan. Setelah
beberapa lama, melihat hujan kelihatannya tidak berhenti, ia datang kepada
saya. Dengan suara takut-takut, ia memohon agar saya bisa meminjaminya payung.
Saya mengizinkan. Akhirnya, ia membuka payung dan tersenyum ketika melihat logo
dari sebuah operator GSM yang tergambar di situ.


Ngomong-ngomong tentang payung itu, kebetulan saya mendapatkannya secara gratis
ketika diundang sebagai narasumber di sebuah siaran acara pagi hari di salah satu
radio swasta terkenal di Jakarta. Ketika selesai siaran, seperti biasa mereka memberi
saya bingkisan, amplop, dan-yang paling penting-sebuah payung.
Saya berpikir, “Uang dalam amplop sih bisa dicari. Tapi payung ini, hmm … tidak
mudah mencarinya karena tidak bisa didapatkan di sembarang tempat ….”
Beberapa minggu kemudian, saya tidak pernah memakainya. Payung itu masih
terbungkus dengan sangat rapi di dalam plastik, sampai akhirnya staf saya yang
pertama kali memakainya. Ya … ia bisa pulang ke rumahnya dengan tersenyum dan
tidak terkena air hujan karena memakai payung yang ukurannya memang cukup
besar.
Menariknya, ketika melihat wujud sebuah payung-yang melindungi staf saya dari air
hujan sore hari-saya seperti melihat penggambaran tentang pentingya sebuah proteksi
bagi keluarga. Apa yang dimaksud dengan proteksi? Proteksi di sini adalah
perlindungan bila terjadi satu risiko pada keluarga Anda.
Apa yang diproteksi? Apa yang dilindungi?
Keuangannya!
Risiko-risiko yang Mungkin Terjadi pada Kehidupan Anda
Bayangkan Anda adalah pria berusia 37 tahun, memiliki istri dan tiga orang anak
yang masih dibiayai secara bulanan, baik hidupnya maupun sekolahnya. Di rumah,
hanya Anda yang bekerja, sementara istri Anda seorang ibu rumah tangga. Simpanan
uang di keluarga kebetulan tidak banyak-banyak amat, hanya sekitar Rp.32 juta. Anda
kebetulan juga tidak memiliki produk-produk investasi lain. Ya, ada sih. Bentuknya
deposito sekitar Rp.12 juta, di luar yang Rp.32 juta tadi. Anda bekerja di kantor yang
sekarang sudah 10 tahun, dengan penghasilan sekitar Rp.4,7 juta per bulan.
B
Miliki Proteksi 37
Pertanyaannya sederhana:
“Apa yang terjadi kalau Anda meninggal dunia?”
Secara keuangan, sudah jelas, gaji Anda berhenti. Mungkin kantor Anda akan berbaik
hati memberikan pesangon, tapi berapa sih pesangonnya? Anggap saja ada pesangon
yang jumlahnya enam bulan gaji terakhir. Sekarang, siapa yang akan membiayai
hidup orang-orang yang Anda tinggalkan?
“Oh, bisa Pak Safir,” kata Anda, “dari simpanan tadi.”
Keluarga Anda mungkin akan memakai uang pesangon plus mencairkan depositonya.
Akan tetapi, sampai kapan uang itu bertahan? Cepat atau lambat pasti habis. Nah,
disinilah pentingnya melakukan proteksi sehingga kalau terjadi satu risiko, apapun
risiko itu, orang yang Anda tinggalkan tidak perlu lagi “menderita” secara keuangan.
***
Anggap saja Anda wanita, belum menikah, dan masih tinggal di rumah orang tua.
Menariknya, Anda adalah anak satu-satunya yang sudah bekerja. Orang tua Anda
sudah pensiun. Adik-adik anda masih sekolah. Anda satu-satunya orang di rumah
yang memiliki penghasilan layak dan menanggung beban hidup seluruh keluarga, dari
bekerja sebagai karyawan.
Apa yang terjadi kalau tiba-tiba sedang menyeberang jalan di dekat kantor, dan
sebuah mobil menabrak Anda dengan cukup kencang dari belakang?
Ada dua kemungkinan. Pertama, Anda meninggal. Otomatis, gaji Anda berhenti.
Kalau gaji Anda berhenti, berhenti juga tanggungan Anda untuk keluarga.
“Sebuah payung dikala hujan ibarat proteksi bila terjadi risiko pada keluarga Anda.”
Kemungkinan kedua, ketika ditabrak , Anda tidak meninggal. Hanya mengalami luka,
namun sangat parah. Kemungkinan terburuk, Anda koma, tidak sadarkan diri. Dokter
Anda juga tidak tahu sampai kapan Anda tidak sadarkan diri. Akan tetapi, di kantor
Anda, jelas Anda sudah akan dirumahkan. Bahkan-siap-siap saja-kehilangan
pekerjaan di bulan kedua. Sementara Anda tidak sadarkan diri, nggak tahu sampai
kapan. Kalau Anda tidak bisa kembali bekerja, penghasilan Anda juga berhenti.
Risiko lain, Anda sakit. Ada biaya dokter yang harus dibayar. Belum lagi biaya rumah
sakit. Nginep di rumah sakit itu mahal. Per malam bisa ratusan ribu. Belum kalau
operasi. Belum obatnya. Bisa puluhan juta!
***
Mau tahu risiko lain?
Anggap saja Anda seorang janda. Anda mempunyai rumah sendiri, dengan satu anak
perempuan yang sudah SMP. Apa yang terjadi kalau rumah Anda terbakar? “Waduh,
jangan sampai dong,” begitu mungkin kata Anda. Ya, jangan sampai, memang.
Namun, misalnya rumah Anda terbakar, apa kira-kira kerugian Anda?
Miliki Proteksi 38
Pertama, Anda rugi harta, baik bangunan maupun isinya. Kedua, Anda mungkin
belum tentu mempunyai uang cash untuk membangun rumah lagi. Kalau Anda
mempunyai uang cash sih nggak apa-apa, tapi kalau nggak punya? Mungkin Anda
harus pinjam sana-sini.
Itu rumah. Kalau Anda mempunyai kendaraan sendiri? Seperti mobil atau motor,
gimana? Hati-hati! Risiko kendaraan berbeda dengan rumah: jauh lebih tinggi.
Kendaraan ‘kan dibawa kemana-mana. Setiap hari lagi. Sementara rumah tetap di situ.
Paling-paling rumah Anda hanya menunggu datangnya risiko, sementara kendaraan,
keluar mencari risikonya sendiri. Hua ha ha …
Oke, cukup becandanya. Kesimpulannya, apa saja risiko yang mungkin bisa terjadi
pada kehidupan Anda? Risiko-risiko yang mungkin bisa terjadi pada kehidupan Anda
antara lain adalah:
1. Kematian
2. Kecelakaan
3. Sakit
4. Musibah pada rumah
5. Musibah pada kendaraan
6. Pemutusan Hubungan Kerja
Tiga Hal yang Bisa Anda Lakukan untuk Memproteksi Akibat Risiko
Apa yang bisa Anda Lakukan untuk memproteksi risiko-risiko tersebut? Jawabnya
ada tiga, yaitu:
1. Miliki asuransi.
2. Miliki dana cadangan.
3. Miliki sumber penghasilan di luar gaji yang kalau bisa didapat secara terusmenerus.
1. Asuransi
Kata asuransi mungkin akan lewat di kepala Anda bila mendengar kata “proteksi”.
Ya, kata “proteksi” memang selalu dikaitkan dengan asuransi. Dengan memiliki
asuransi, akibat-akibat yang muncul bila terjadi risiko pada keluarga Anda bisa
diantisipasi.

Ada tiga jenis jasa asuransi yang umumnya dikenal.
Pertama, Asuransi Jiwa. Dengan asuransi ini, bila terjadi risiko kematian pada
diri Anda, perusahaan asuransi akan memberikan sejumlah uang yang biasa
disebut Uang Pertanggungan kepada ahli waris Anda. Uang Pertanggungan inilah
yang nanti diharapkan bisa dikelola oleh ahli waris Anda. Ada bermacam-macam
asuransi jiwa, ada yang konvensional, ada juga yang modern. Untuk mendapatkan
produk asuransi jiwa gampang koq. Datang saja ke perusahaan asuransi yang
biasanya mempunyai nama diakhiri dengan kata “jiwa” atau “life”. Asuransi Jiwa
Bersama Bumiputera misalnya, Manulife, atau Sunlife. Allianz Life juga. Ada
pula Prudential.
Kedua, Asuransi Kesehatan. Asuransi kesehatan adalah program asuransi yang
memberikan penggantian biaya kesehatan yang sifatnya untuk penyembuhan
(sekali lagi, penyembuhan, bukan pemeliharaan). Biaya kesehatan itu terbagi atas:
Miliki Proteksi 39
a. Perawatan, dan
b. Penyembuhan Sakit.
Perawatan, misalnya membeli vitamin atau check up rutin. Penyembuhan sakit
contohnya untuk biaya dokter, berobat, operasi, bahkan biaya rumah sakit. Harus
kemanakah kita kalau ingin mencari produk asuransi kesehatan? Di Indonesia,
produk-produk asuransi kesehatan banyak dijual oleh Perusahaan Asuransi Jiwa,
baik sebagai produk utama yang berdiri sendiri atau sebagai produk yang
ditempelkan pada Asuransi Jiwa.
Ketiga, Asuransi Kerugian. Asuransi ini biasanya memberikan uang
pertanggungan kalau-kalau properti atau barang-barang Anda (seperti rumah atau
kendaraan) kena musibah. Contohnya, kebakaran rumah atau kecelakaan
kendaraan di jalan raya.
Jadi, dengan membeli produk asuransi kerugian, Anda sebetulnya sudah
melakukan proteksi untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu pada rumah Anda,
misalnya.
Kalau terjadi kebakaran di rumah Anda, sebetulnya Anda mengalami kerugian
sebesar nilai bangunan dan isinya. Mengapa “tanah” tidak dihitung? Oleh karena,
tanah kan nggak kena risiko fatal. Kalaupun terjadi, paling banter tanah itu toh
jadi empang.
Jadi, kalau Anda ingin mengasuransikan rumah dan isinya, sebetulnya yang
diasuransikan itu adalah bangunan dan isinya.
Bila Anda masih kebingungan tentang asuransi, bacalah buku saya,
Mengantisipasi Risiko.
2. Dana cadangan
Sebagai seorang karyawan, apakah Anda terus-menerus tidak pernah memiliki
uang tunai di rekening tabungan Anda?
Kalau jawabannya IYA, then you’re in a dangerous situation.
Suatu hari saya pernah memberikan pelatihan di sebuah perusahaan yang sangat
besar. Topiknya menarik: Kiat Mengelola Uang Pesangon. Pesertanya, orangorang
yang ternyata SUDAH di-PHK, tetapi belum menerima uang pesangon.
Ngomong-ngomong tentang pelatihan untuk orang-orang yang di-PHK, kalau
Anda kebetulan orang di divisi HRD, saran saya, jangan mengadakan pelatihan
atau seminar Mengelola Uang Pesangon setelah peserta mendapatkan uang
pesangonnya. Dijamin nggak bakal banyak yang datang. Kalau mau, berikan
pelatihan atau seminar tentang pengelolaan uang pesangon sebelum mereka benarbenar
menerimanya. Biasanya, lebih banyak yang datang!
Dalam pelatihan Mengelola Uang Pesangon yang saya berikan, saya menemukan
banyak sekali peserta yang ternyata tidak pernah bisa memiliki uang cukup di
tabungannya. Bukan karena penghasilan mereka tidak besar, tapi masalahnya,
tidak banyak di antara mereka yang bisa menyisakan cukup uang di rekening
tabungan. Selalu saja habis. Alasannya macam-macam, terlalu banyak
Miliki Proteksi 40
pengeluaranlah, harga-harga naiklah, selalu tekorlah, anaknya banyaklah, dan
seterusnya.
Nah, ketika PHK itu datang, paniklah mereka. Kenapa? Oleh karena, ketika PHK,
gaji mereka akan berhenti. Selama belum bekerja lagi, mereka mau hidup dari
mana? Kan nggak ada tabungan? Itulah kenapa ada uang pesangon.
Untuk seorang yang mengalami PHK, perusahaan wajib memberikan uang
pesangon. Ada undang-undangnya. Namun, apakah hanya karena ada undangundangnya,
perusahaan Anda akan tetap memberikan uang pesangon?
Kenyataannya, uang pesangon itu nggak selalu ada. Kebanyakan kasus itu terjadi
di perusahaan yang organisasinya tidak besar-besar amat. Banyak perusahaan
yang lingkupnya sangat kekeluargaan, yang jumlah orang di organisasinya
mungkin hanya sekitar 15 orang bahkan kurang, sering kali menyelesaikan
masalah PHK ini tanpa uang pesangon. Kalaupun ada, mungkin jumlahnya hanya
sekitar 2-3 bulan gaji. Alasan tidak adanya (atau kecilnya) uang pesangon ini
bermacam-macam. Namun, kebanyakan alasannya seragam: kondisi perusahaan
sedang sakit.
“Miliki dana cadangan untuk membayar pengeluaran-pengeluaran
keluarga selama beberapa bulan ke depan kalau-kalau
terjadi sesuatu pada sumber penghasilan Anda.”
Jadi, apa yang harus dilakukan? Sederhana sekali: miliki dana cadangan! Guna
dana cadangan adalah untuk membayar pengeluaran-pengeluaran Anda selama
belum mendapatkan pekerjaan.
Seberapa besar jumlah dana cadangan yang sebaiknya dimiliki? Ya, sebesar
pengeluaran keluarga selama beberapa bulan. Anggap saja bila Anda di-PHK,
Anda akan hidup dari dana cadangan untuk beberapa bulan sebelum akhirnya
mendapatkan pekerjaan kembali. Berapa jumlahnya? Idealnya sih sekitar 3, 6
hingga 12 bulan pengeluaran keluarga Anda.
Jadi, kalau pengeluaran keluarga Anda saat ini Rp.1 juta per bulan, berarti Anda
harus mempunyai dana cadangan sebesar Rp. 3, 6 hingga 12 juta. Anggap saja
Rp.6 juta. Ini berarti, kalau Anda di-PHK hari ini juga dan tidak mendapatkan
uang pesangon, Anda masih mempunyai uang untuk membayar pengeluaranpengeluaran
keluarga selama 6 bulan ke depan walaupun Anda tidak digaji lagi.
Jadi, tunggu apa lagi? Miliki dana cadangan sekarang juga! Jangan sampai Anda
harus di-PHK dan tidak mendapatkan uang pesangon, Anda sengsara.
3. Miliki sumber penghasilan di luar gaji yang kalau bisa didapat secara terusmenerus
Sekarang, saya ingin mengajak Anda untuk jujur kepada diri sendiri. Kapan
terakhir kali Anda merasa bahwa bekerja sebagai seorang karyawan bisa membuat
Anda kaya?
Seperti saya katakan di depan, menjadi karyawan itu bukan jaminan bisa membuat
Anda kaya. Sebaliknya, membuka usaha sendiri pun belum tentu bisa membuat
Miliki Proteksi 41
Anda kaya. Buktinya, saya sudah puluhan kali melihat bahwa banyak usahawan
muda yang penghasilannya sangat besar, tapi ketika akhir bulan, sering kali
penghasilan itu habis begitu saja. Kesimpulannya, menjadi usahawan bukan
jaminan bisa membuat Anda kaya, dan menjadi karyawan juga bukan berarti
bahwa Anda tidak bisa kaya. Anda bisa kaya dari bagaimana Anda mengelola
penghasilan yang masuk, seberapa pun besar atau kecilnya penghasilan itu.
Nah, berbicara soal gaji kecil, yang jadi masalah, banyak karyawan yang betulbetul
hanya termotivasi karena uang ketika mereka bekerja. Pikiran mereka nggak
jauh-jauh amat dari kalimat seperti di bawah ini.
“Hmm …, gaji saya sekarang Rp.2 juta. Kapan ya gaji saya bisa naik jadi Rp.2,5
juta?”
“Bonus saya tahun ini Rp.10 juta. Ah, nggak bener nih. Harusnya bonus saya
Rp.17 juta dong. Gimana sih orang HRD? Gak tau orang udah kerja capek-capek,
apa?”
“Gaji kamu Rp.3 juta per bulan? Waduh, koq gaji saya jauh di bawah kamu ya?
Padahal kan job desc kita hampir sama. Wah, gak adil nih ….”
Komentar saya atas pernyataan-pernyataan seperti itu Cuma satu:
“Jangan pernah bekerja hanya untuk uang ….”
Maksudnya?
Kalau Anda jadi karyawan, uang yang Anda dapat tiap bulan ‘kan “dijatah” orang.
Kalau uang bulanan Anda “dijatah” orang, ya ngapain Anda kerja hanya untuk
uang? Kalau Anda mau penghasilan besar dan tidak dijatah, bukalah usaha
sendiri; uang masuknya bisa lebih besar. Anda juga bisa menjadi makelar atau
agen asuransi sehingga bisa menentukan sendiri uang yang Anda dapatkan.
Berulang-ulang saya katakan bahwa Anda tetap bisa kaya berapa pun penghasilan
Anda, termasuk ketika bekerja sebagai karyawan yang penghasilannya dibatasi.
Namun, kalau berharap gaji dengan jumlah besar yang masuk kepada Anda setiap
bulannya, mending nggak usah jadi karyawan.
Kesimpulannya? Kalau Anda bekerja, cobalah tidak hanya untuk alasan uang, tapi
bekerjalah untuk bisa memiliki teman-teman baru atau mendapatkan keahlian
baru. Prinsipnya, cobalah bekerja tidak hanya demi “uang”. Hidup Anda akan
membosankan.
Sekali lagi, Anda tetap bisa kaya dengan mengelola gaji. Akan tetapi,
mengharapkan gaji besar? No way. Bukannya nggak bisa, tapi ingat, bukan Anda
yang menentukan jumlah gaji yang Anda dapatkan.
Apa yang harus Anda lakukan kalau Anda tidak bekerja hanya untuk uang?
Jawabannya: miliki sumber penghasilan lain di luar gaji Anda sekarang. Dengan
demikian, kalau Anda mengalami hal buruk dengan gaji Anda, Anda sudah
mempunyai back up penghasilan. Kalau perlu, atau kalau bisa, usahakan agar
Miliki Proteksi 42
penghasilan lain tersebut bisa didapatkan secara terus-menerus. Ibaratnya nih,
kalaupun Anda di-PHK sekarang, dan setelah beberapa bulan dana cadangan Anda
habis selama Anda belum bekerja lagi, Anda toh sudah mempunyai alternatif
penghasilan lain.
Sumber penghasilan lain seperti apa yang bisa didapatkan secara terus-menerus?
Pertama, tentu saja bisnis. Oleh karena, pada saat masih bekerja, Anda bisa
mencari peluang bisnis yang mungkin dapat dijalankan tanpa mengganggu waktu
kerja Anda, seperti investasi di usaha orang lain, membuka warung makan yang
dijalankan oleh adik Anda yang pinter masak, atau membuka wartel atau warnet
kecil yang dioperasikan sepupu Anda. Memang, untuk awalnya, penghasilan dari
sumber itu mungkin nggak besar-besar amat. Akan tetapi, yang penting harapan
Anda ‘kan mereka bisa terus-menerus ngasih penghasilan.
Alternatif kedua, kalau Anda menginginkan sumber penghasilan yang bisa
memberikan hasil secara terus-menerus, milikilah produk-produk investasi yang
bisa memberikan Pendapatan Tetap untuk Anda, seperti deposito yang
memberikan pendapatan tetap berupa bunga, atau rumah yang bisa juga
memberikan pendapatan tetap berupa uang sewa secara periodik. Fokuskan diri
Anda terus-menerus untuk memiliki produk-produk investasi seperti ini sehingga
kelak, jumlah pendapatan tetap yang masuk dari investasi ini bisa menyamai
pendapatan Anda sekarang. Memang nggak gampang dan nggak mungkin bisa
cepat. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun sebelum pendapatan tetap Anda dari
investasi ini bisa menyamai penghasilan Anda sekarang.
Ingat, merintis jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Namanya juga sedang
membangun sumber passive income, alias income yang didapat tidak
mengharuskan kita untuk aktif bekerja. Kalau mempunyai passive income yang
bagus, Anda bisa lebih tenang bekerja di tempat sekarang. Konsentrasi Anda tidak
harus terganggu oleh masalah gaji yang dirasa kecil, padahal sebetulnya tidak.
Ingat, tugas perusahaan bukanlah menyejahterakan Anda, tapi memberikan
imbalan yang pantas sesuai dengan job desc Anda. Anda hanya perlu
mengusahakan untuk memiliki satu sumber penghasilan lagi yang mudahmudahan
bisa dijadikan passive income.
Passive income ini awalnya mungkin memang kecil, tapi lama-kelamaan kita
harapkan jumlahnya bisa semakin besar dan besar.
Selain itu, dengan memiliki sumber penghasilan lain yang diusahakan bisa
menjadi passive income, Anda bisa mengantisipasi risiko hilangnya sumber
penghasilan dari pekerjaan Anda sebagai karyawan. Dana cadangan memang bisa
mengantisipasi risiko PHK. Akan tetapi, ingat dana cadangan sebetulnya hanya
sebuah proteksi untuk jangka pendek kalau Anda di-PHK. Nah, kalau dana
cadangan berguna untuk proteksi jangka pendek, sumber penghasilan lain yang
terus-menerus akan berguna untuk proteksi jangka panjang. Selain itu, kalau
sumber penghasilan Anda banyak, nggak hanya menggantungkan diri dari gajiii
melulu, Anda tentu akan dapat merasakan enaknya. Misalnya, jika salah satu
sumber penghasilan Anda mati, Anda masih mempunyai cadangan sumber yang
lain. Itulah enaknya kalau mempunyai sumber penghasilan yang banyak.
Sementara penghasilan di kantor Anda sekarang tetap menjadi sumber utama.