Siapa Bilang jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya Bagian 14 (penutup)

Bagaimana melakukannya?
1. Miliki asuransi, entah asuransi jiwa, asuransi kesehatan, atau asuransi
kerugian. Syukur kalau dari beberapa dari jenis jasa asuransi itu sudah
dibayari oleh kantor. Kalau tidak, beli saja dengan biaya sendiri.
2. Miliki dana cadangan sebagai proteksi jangka pendek kalau Anda kehilangan
penghasilan dan tidak mendapatkan uang pesangon, atau kalau uang
pesangonn Anda sangat kecil.


3. Miliki Sumber Penghasilan Lain di Luar Gaji yang kalau bisa didapat secara
terus-menerus, sebagai proteksi jangka panjang dari gaji Anda yang sewaktuwaktu
bisa saja terancam berhenti.
Kesimpulan 44
Kesimpulan
ari pengalaman saya memberikan materi perencanaan keuangan dalam
bentuk training dan seminar, termasuk ketika menulis di media cetak dan
berbicara di media elektronik tentang cara mengelola gaji, saya sering kali
menemukan satu kenyataan yang menyedihkan


Apa itu? Sering kali orang di luar sana lebih senang membaca, mendengar, dan
menonton saya ketika memberikan saran-saran perencanaan keuangan, dibandingkan
dengan melakukan apa yang saya sarankan. Mereka kadang terlibat aktif dalam
mendengarkan atau membaca saran saya di berbagai media cetak, tapi banyak di
antara mereka yang masih juga tidak melakukan saran-saran yang saya berikan.
Kenapa bisa begitu?
Jawabannya sederhana:
“Karena ‘belajar’ dan ‘melakukan’ adalah dua hal yang sangat berbeda. Banyak
orang yang lebih senang belajar, belajar, dan belajar, tapi ketika harus melakukan apa
yang dipelajari, eit, nanti dulu. Udah enak-enak di kondisi yang sekarang, eeeh, malah
disuruh melakukan hal lain yang mengganggu rasa nyaman yang biasa didapat ….”
Betul, belajar dan melakukan adalah dua hal yang berbeda. Dengan buku ini,
misalnya, lebih mudah bagi Anda untuk “belajar” daripada “melakukan” lima kiat
yang sudah Anda baca. Padahal, saya sangat mengerti bahwa untuk menjalankan lima
kiat tersebut, Anda harus keluar dari kenyamanan Anda. Sebagai contoh, untuk mau
membiasakan diri membeli atau memiliki Harta Produktif, seseorang harus mengubah
cara pikir. Mungkin yang tadinya biasa berpikir, “Nabungnya nanti aja deh kalau
penghasilannya bersisa,” sekarang harus diubah menjadi, “Oke, sekarang saya nabung
dulu, invest dulu ke Harta Produktif, baru belanja ….” Atau, ketika datang ke mall,
Anda yang mungkin biasa berpikir, “Apa yang bisa saya beli?” harus diubah menjadi,
“Apa yang bisa saya jual di mall ini?” Berat, kan rasanya?
Contoh lain adalah kebiasaan ngutang. Kalau Anda terbiasa ngutang, mungkin
sekarang kebiasaan itu harus Anda kurangi supaya cicilan utang Anda tidak
memberatkan gaji Anda. Wah, buat mereka yang senang ngutang, saya tahu akan
berat sekali mengubah kebiasaan itu. Ya, kan?
Akan tetapi, dari pengalaman saya, keberhasilan sering kali sangat membutuhkan
pengorbanan. Salah satunya, mengubah cara berpikir, dan yang paling penting,
bertindak. Nah, kalau Anda ingat, sekali lagi ada lima kiat dalam mengelola gaji agar
Anda bisa kaya:
D
Kesimpulan 45
Kiat Nomor 1:
“Beli dan Miliki Sebanyak Mungkin Harta Produktif”
Kiat Nomor 2:
“Atur Pengeluaran Anda”
Kiat Nomor 3:
“Hati-hati dengan Utang”
Kiat Nomor 4:
“Sisihkan untuk Pos-pos Pengeluaran di Masa yang Akan Datang”
Kiat Nomor 5:
“Miliki Proteksi”
Sulitkah dilakukan? Sulit atau tidak, jelas ada pengorbanan! Saya tidak mau jika Anda
sekadar membaca apa yang saya tulis, tapi saya pun ingin Anda melakukannya.
Bukan untuk saya, bukan untuk orang lain, tapi untuk kesejahteraan Anda dan
keluarga Anda.
Sudah tiba waktunya saya mengakhiri buku ini, dan mengatakan kepada Anda,
“Selamat mengelola gaji Anda!” Selanjutnya, bila Anda pelan-pelan telah berhasil
menabung dan menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilan Anda dalam bentuk
tabungan, deposito, reksadana, atau dalam bentuk aset-aset lain, mari dengan lantang
kita katakan kepada orang-orang di luar sana …
“Siapa bilang jadi karyawan nggak bisa kaya?”
Profil Penulis 46
Profil Penulis
afir Senduk adalah seorang Perencana Keuangan. Menempuh pendidikannya di
STIE IBMI, Jakarta, dan mempelajari ilmu keuangan keluarga secara otodidak
selama 4 tahun, Safir mendirikan Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk &
Rekan pada awal tahun 1998. Misi biro ini adalah melayani klien dalam membuat
perencanaan keuangan bagi mereka dan memberikan edukasi tentang keuangan
keluarga kepada masyarakat.
Selain melayani klien, memberikan pelatihan, serta menjadi pembicara seminar, Safir
juga menulis enam buku tentang perencanaan keuangan yang tergabung dalam Seri
Perencanaan Keuangan Keluarga. Masing-masingnya adalah “Mempersiapkan Dana
Pendidikan Anak”, “Merancang Program Pensiun”, “Mengantisipasi Risiko”,
“Mengelola Keuangan Keluarga”, “Mengatur Pengeluaran Secara Bijak”, dan
“Mencari Penghasilan Tambahan”.
Pada tahun 2000, ia juga mendirikan situs www.perencanakeuangan.com sebuah situs
yang sampai saat ini telah berkembang menjadi situs terbesar dan terlengkap di
Indonesia. Situs ini membahas tentang perencanaan keuangan, dan yang paling sering
menjadi acuan serta referensi dari banyak kalangan-mulai dari mahasiswa, karyawan,
pengusaha, hingga wartawan-yang ingin mencari topik-topik tentang perencanaan
keuangan.
Safir juga sering tampil pada acara-acara talkshow di televisi dan radio. Saat ini ia
juga mengisi sejumlah rubrik dan acara di beberapa media, diantaranya:
Media Cetak:
Tabloid NOVA, rubrik “Ulas Uang”
Harian Seputar Indonesia Minggu, rubrik “Klinik Investasi”
Majalah Matra, rubrik “Solusi”
Media Elektronik:
Radio Indika 91,6 FM Jakarta,
Acara “Financial Freedom”
(tiap Rabu pukul 09.00 – 09.30 WIB)
Radio Bahana Metropolitan 101,8 FM Jakarta,
Acara “Potret Kamis”
(tiap kamis pukul 09.00 – 10.00 WIB)
Radio PAS 92,4 FM Jakarta; 106,3 FM Bandung; 104,3 FM Surabaya; dan
106,0 FM Semarang,
Acara “Money & You”
(tiap Kamis pukul 18.00 – 19.00 WIB)