Siapa Bilang jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya Bagian 10
Hati-hati dengan Utang 21
Kapan Anda boleh berutang?
Ada jawaban lucu yang-walaupun tidak sering muncul-kadang-kadang dilontarkan
oleh peserta seminar saya. Ini jawabannya:
“Ketika kita tahu akan ada bonus bulan depan.”
Isu tentang bonus bulan depan sering kali menjadi alasan seorang karyawan kembali
berutang. Entah melakukan belanja tambahan yang kadang tidak perlu, membeli HP
yang baru saja diiklankan di teve, bahkan berlibur. Banyak karyawan memutuskan
untuk berlibur dengan memanfaatkan fasilitas utang dari kartu kredit hanya karena ia
tahu bahwa bulan depan akan ada bonus.
Oleh karena itu, ada baiknya Anda tahu kapan boleh berutang dan kapan tidak.
Kapan BOLEH Berutang
1. Ketika utang itu akan digunakan untuk sesuatu yang produktif.
Misalnya, untuk bisnis. Bisnis jelas produktif, biarpun hasilnya kadang tidak
selalu bisa langsung dinikmati. Harapannya sih , hasil bisnis bisa lebih besar
dibandingkan dengan bunga dan cicilan yang Anda bayar.
2. Ketika utang itu akan dibelikan barang yang nilainya hampir pasti akan naik.
Contohnya, rumah. Rumah adalah tanah dan bangunan yang berdiri di atasnya.
Nilai bangunan biasanya akan menurun dalam jangka waktu 10-15 tahun.
Sebaliknya, nilai tanah justru akan naik dari tahun ke tahun. Bahkan, kenaikan
harga tanah ini sering kali jauh lebih besar daripada penurunan nilai bangunan. Di
sini, Anda boleh berutang karena hampir bisa dipastikan persentase kenaikan nilai
rumah Anda lebih besar daripada persentase suku bunga KPR.
3. Ketika Anda tidak punya cukup uang tunai untuk membeli barang-barang yang
benar-benar Anda butuhkan, walaupun nilai barang itu menurun.
Misalnya, barang elektronik. Kulkas deh. Kulkas nilainya cenderung menurun dari
tahun ke tahun. Akan tetapi, barang ini penting dan pembeliannya sering kali tidak
bisa ditunda. Bahasa kerennya: urgent. Nah, kalau tidak punya uang tunai yang
cukup untuk membelinya, Anda bisa memanfaatkan fasilitas utang yang ada di
sekitar Anda.
Kapan Sebaiknya TIDAK Berutang
Ketika barang yang Anda beli nilainya menurun dan Anda punya uang untuk
membelinya secara tunai.
Kembali ke contoh kulkas yang urgent itu. Kalau Anda memiliki uang tunai, lebih
baik beli cash. Kenapa? Membeli secara kredit akan lebih mahal dibanding kalau
Anda membeli secara tunai.
Bagaimana dengan rumah? Apa harus tunai juga? Memang, membeli rumah secara
tunai akan lebih murah. Akan tetapi, khusus untuk rumah, tidak apa-apa kalau Anda
Hati-hati dengan Utang 22
membelinya secara kredit. Berbeda dengan kendaraan atau barang elektronik yang
nilainya menurun, nilai rumah biasanya naik sehingga kalaupun Anda membayar
lebih mahal dalam bentuk pembelian secara kredit, toh persentase kenaikan nilai
rumah Anda biasanya lebih besar daripada persentase suku bunga KPR.
***
Kalau Anda akhirnya memutuskan membeli dengan cara kredit atau berutang, apa
yang sebaiknya Anda lakukan? Sebaliknya, bagi Anda yang pada saat ini sudah
terlanjur memiliki utang, bagaimana caranya agar utang tersebut tidak akan
memberatkan gaji Anda?
Saya akan membagi bab ini menjadi dua bagian. Bagian pertama khusus untuk Anda
yang belum memiliki utang, tetapi ingin mengambil utang, dan bagian kedua untuk
Anda yang pada saat ini sedang (sudah terlanjur) memiliki utang.
Buat Anda yang ingin Mengambil Utang
Anda mungkin sedang berpikir-pikir ingin membeli sesuatu, entah itu rumah, mobil,
motor, komputer, atau barang elektronik. Namun, Anda tidak memiliki uang tunai
yang cukup untuk pembelian tersebut. Mungkin uang tunai Anda ada, tapi terlalu
ngepas, atau Anda memang betul-betul tidak mempunyai uang tunai sementara barang
yang ingin dibeli dirasa urgent.
Mungkin Anda mulai berpikir dan mempertimbangkan untuk membeli secara kredit.
Berikut sejumlah tip bila Anda ingin membeli sesuatu dengan cara berutang.
1. Pilih dengan siapa Anda berutang.
2. Ambil cicilan utang yang sesuai dengan penghasilan Anda.
3. Perhatikan prosedur pembayaran utang Anda.
1. Pilih dengan siapa Anda berutang
Ketika ingin berutang atau membeli sesuatu dengan cara kredit, pikiran kita sering
kali lebih terfokus pada bagaimana caranya agar permohonan utang kita disetujui.
Kadang-kadang hanya agar permohonan itu disetujui, kita melakukan
kebohongan-kebohongan kecil, seperti jumlah penghasilan, lama bekerja, atau halhal
semacam itu. Padahal, kita sering kali lupa bahwa ada perjuangan baru yang
harus dilakukan segera setelah mendapatkan utangan itu, yaitu bagaimana cara
kita untuk bisa membayarnya kembali.
Banyak orang yang kadang-kadang tidak bisa lancar saat membayar kembali
utang-utangnya. Penyebabnya macam-macam, bisa karena jumlah cicilannya yang
terlalu besar dan tidak sebanding dengan penghasilannya yang kecil, bisa karena
penghasilannya tiba-tiba harus hilang karena di-PHK, dan seterusnya.
Nah, repotnya, pihak Anda utangi sering kali tidak mau tahu problem Anda.
Mereka ingin utang-utang yang mereka berikan dibayar.
Bahkan, tidak semua pihak yang Anda utangi itu bisa bernegosiasi, dan juga
bahkan terlalu sulit untuk menegosiasikan perpanjangan masa pengembaliannya.
Hati-hati dengan Utang 23
Oleh karena itu, tip dari saya untuk Anda ketika ingin berutang atau membeli
sesuatu secara kredit: pilihlah pada siapa Anda ingin berutang atau membeli
sesuatu secara kredit. Carilah pihak yang yang bisa fleksibel bernegosiasi kalau
Anda sedang tidak mampu membayar (padahal Anda benar bermaksud ingin
membayar).
Siapa saja pihak-pihak yang sulit diajak bernegosiasi dan siapa pula yang
fleksibel? Berikut urutan-urutannya; mulai dari pihak yang sulit diajak
bernegosiasi sampai pihak yang paling fleksibel.
a. Rentenir
b. Perusahaan Pembiayaan (leasing & leaseback)
c. Bank
d. Pegadaian
e. Kantor atau Koperasi Kantor
f. Teman atau Saudara
g. Orang Tua atau Mertua
h. Pasangan
Jadi, ingatlah, dengan siapa Anda berutang akan menentukan bagaimana “nasib”
keuangan Anda bila kelak Anda sedang tidak bisa membayar kembali utang-utang
Anda.
2. Ambil cicilan utang yang sesuai dengan penghasilan Anda.
Bukan satu dua kali saya mendengar bahwa hanya karena ingin mendapatkan
utangan, seseorang menyanggupi jumlah cicilan yang besar. Mungkin orang itu
lupa bahwa jumlah cicilan yang besar sering kali bisa memberatkan keuangannya
sendiri.
Contohnya, ada orang yang kadang-kadang menyanggupi kredit pembayaran
kulkas sebesar Rp.750 ribu sebulan, padahal penghasilannya tidak sampai Rp.1,5
juta per bulan. Bahkan, orang ini kadang-kadang berani mengambil lagi satu
utangan baru sehingga penghasilannya sendiri tidak banyak tersisa.
Tip dari saya untuk Anda: cobalah mengambil utangan yang cicilannya memang
sesuai dengan penghasilan Anda. Jangan sampai gara-gara membayar cicilan,
penghasilan Anda hanya bersisa sedikit dan tidak bisa Anda nikmati.
Saran saya, usahakan total cicilan utang Anda hanya mencapai 30% dari
penghasilan Anda.
“Jangan mentang-mentang Anda sedang butuh, lalu Anda mengambil
utang yang cicilannya memberatkan Anda.
Ambillah utang yang cicilannya memang sesuai dengan penghasilan Anda.
Kalau bisa, total cicilan utang tidak lebih dari 30% penghasilan Anda.”
Katakan saja penghasilan Anda Rp.1 juta per bulan. Ini berarti, kalau mengambil
utang atau membeli sesuatu secara kredit, Anda hanya bisa mengambil pilihan
cicilan sebesar maksimal Rp.300 ribu per bulan. Lebih-lebih sedikit bolehlah,
nggak usah kaku; yang penting sekitar 30% dari penghasilan Anda. Bagaimana
kalau ingin mengambil dua utang? Boleh, asalkan total cicilan nya tetap sekitar
30% dari Rp.1 juta. Mungkin Cicilan Barang A sebesar Rp.200 ribu sebulan,
sedangkan Cicilan Barang B Rp.100 ribu sebulan.
Hati-hati dengan Utang 24
Kenapa sih harus memakai aturan 30%? Kalau Anda menggunakan
sekitar-katakan-60% dari penghasilan bulan Anda hanya untuk membayar
cicilan, utang Anda memang akan cepat habis, tapi Anda tidak bisa membayar
semua pengeluaran Anda yang lain. Akibatnya, kalau kebutuhan di rumah tidak
bisa terpenuhi, konsentrasi kerja Anda terganggu. Bayangin aja, gaji lumayan,
tapi Anda tidak bisa menikmatinya karena sebagian besar digunakan untuk
membayar cicilan. Sayang, kan?
Orang yang kebanyakan dalam membayar cicilan sering kali tidak bisa membayar
kembali cicilan utangnya karena biasanya ia lebih mendahulukan untuk membeli
kebutuhan. Akhirnya, uang untuk bayar cicilan sudah keburu terpakai untuk
membeli kebutuhan sehingga tidak ada uang lagi untuk bayar cicilan.
3. Perhatikan prosedur pembayaran utang Anda
Pernahkah Anda melihat orang yang sering kesulitan membayar cicilan utang?
Bukan karena orang itu tidak sanggup membayar, bukan juga karena cicilan
utangnya jauh melebihi aturan kita yang 30% dari penghasilan. Jadi, lebih pada
prosedur pembayarannya.
Anggap saja Anda mendapat gaji sekitar tanggal 25 setiap bulan. Anda kebetulan
mempunyai utang yang cicilannya wajib dibayar setiap tanggal 20. Katakan saja
pada periode tanggal 15-20 setiap bulan. Kira-kira, apa yang akan terjadi?
Banyak orang bukannya membayar cicilan tersebut, tapi keburu menghabiskan
uangnya untuk dibelanjakan. Kalau dapat gaji tanggal 25, sementara bayar
utangnya tanggal 15-20 bulan depannya, wajar saja kalau Anda tergoda untuk
memakainya terlebih dahulu. Akhirnya, uang Anda habis. Jadi, kalau gaji Anda
didapat setiap tanggal 25, kenapa Anda tidak mencoba “menawar” agar periode
pembayaran utang itu bisa diubah ke tanggal 27-30? Atau 1-5?
Ingat, keterlambatan pembayaran utang sering berakibat denda yang sebenarnya
tidak perlu.
Buat Anda yang Sudah Memiliki Utang.
Bagaimana kalau pada saat ini Anda sudah terlanjur memiliki utang? Banyak di antara
karyawan yang memiliki utang, malah terpuruk dengan utang-utang tersebut. Suatu
kali, saya pernah melihat sebuah iklan teve yang menggambarkan tentang bagaimana
seorang karyawan yang bekerja dengan sangat baik di kantornya dan memiliki gaji
cukup baik, tapi gara-gara utangnya banyak, ia hampir menghabiskan seluruh gajinya
untuk membayar utang. Dengan demikian, ia tidak sempat lagi merasakan besarnya
gaji yang ia peroleh.
Nah, kalau Anda tidak ingin seperti orang yang ada di iklan itu, bagaimana kalau
Anda simak tip-tip berikut? Mudah-mudahan dengan tip-tip ini, Anda tidak akan
stress kalaupun mempunyai utang.
1. Tinjau kembali kemampuan Anda dalam membayar cicilan.
2. Jalin hubungan dengan si pemberi utang.
3. Kadang-kadang, tidak apa-apa melakukan gali lubang tutup lubang.
Hati-hati dengan Utang 25
1. Tinjau kembali kemampuan Anda dalam membayar cicilan
Total cicilan utang Anda sebaiknya tidak lebih dari 30% penghasilan Anda.
Namun, bagaimana kalau setelah dihitung-hitung, total cicilan Anda mencapai
50% dari penghasilan Anda? Coba ubah ke 30%.
Bagaimana caranya? Negosiasi.
Misalnya saja, penghasilan Anda per bulan mencapai Rp.3,5 juta. Kebetulan Anda
memiliki tiga utang sebagai berikut:
a. Motor, sebesar Rp.300 ribu per bulan, dibayar ke sebuah perusahaan leasing.
b. Rumah, sebesar Rp.500 ribu per bulan, dibayar ke bank.
c. Uang tunai, sebesar Rp.600 ribu per bulan, dibayar ke seorang teman yang
pernah berbaik hati meminjamkan uang.
Total cicilan Rp.1.400.000,- per bulan. Berarti, sama dengan 40% dari
penghasilan Anda.
Jadikan total cicilan Anda 30% saja dari penghasilan Anda. Dalam hitungan saya,
ini berarti sama dengan Rp.1.050.000,- per bulan.
Bagaimana caranya? Lakukan negosiasi kepada salah satu di antara pemberi
utang, dan minta agar jumlah cicilannya bisa dikurangi. Diharapkan total cicilan
Anda bisa hanya sekitar 30% dari penghasilan atau berkurang sebesar Rp.350 ribu
per bulan.
Siapakah yang bisa dinegosiasi? Di antara ketiga pihak (leasing, bank, dan teman),
yang paling fleksibel adalah teman. Jadi, cobalah datang ke teman Anda, siapa
tahu Anda bisa melakukan negosiasi dengan mengubah cicilan yang tadinya
Rp.600 ribu per bulan menjadi hanya Rp.250 ribu per bulan. Konsekuensinya,
paling-paling Anda harus bersedia memperpanjang jangka waktu pembayaran.
Nggak apa-apa, yang penting cicilan tersebut tidak memberatkan Anda setiap
bulan.
Biasanya, penghasilan Anda setiap tahun naik, bukan? Dengan demikian, lamalama
total cicilan Anda mungkin tidak lagi menghabiskan 30% penghasilan Anda,
tapi hanya menjadi 25% atau 20% dari penghasilan Anda yang sudah naik.
Sekali lagi, bila sekarang Anda sudah mempunyai utang, tinjau kembali
kemampuan Anda dalam membayar cicilan. Kalau ternyata cicilan tersebut
memberatkan Anda, jangan ragu melakukan negosiasi. Itulah karenanya, penting
sekali bagi Anda memilih pada siapa Anda akan berutang.



