Siapa Bilang jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya Bagian 9

Kiat Nomor 2
“ATUR PENGELUARAN ANDA”
Bagaimana Melakukannya?
1. Usahakan-kalau perlu sedikit lebih keras pada diri Anda sendiri-untuk tidak
mengalami defisit karena defisit adalah sumber semua masalah besar yang
mungkin muncul di masa mendatang.
2. Prioritaskan pembayaran cicilan utang, lalu premi asuransi, kemudian biaya
hidup.
3. Pelajari tip mengeluarkan uang secara bijak untuk setiap pos pengeluaran.
Hati-hati dengan Utang

Hati-hati dengan Utang
Tahukah Anda perbedaan ngutang dan nabung?
Menabung berarti bersusah-susah dulu, bersantai-santai kemudian. Artinya, Anda
bekerja keras di depan, setelah itu merasakan nikmatnya di belakang. Kalau ngutang,
berarti Anda bersantai-santai dulu, baru merasakan susahnya di belakang.
Sekali lagi, nabung berarti Anda bekerja keras dulu, baru mendapatkan nikmatnya di
belakang, sedangkan ngutang berarti Anda menikmati nikmatnya di depan, setelah itu
melakukan kerja keras.
Kebanyakan orang Indonesia lebih senang ngutang daripada nabung. Ada satu cerita
menarik tentang “utang” ini.
Alkisah di negeri antah-berantah, diadakanlah sebuah kontes. Nama kontes itu Kontes
Gajah Menangis. Ada seekor gajah yang seumur hidupnya tidak pernah menangis.
Banyak orang disekitarnya berputus asa karena bingung melihat kenapa si gajah tidak
pernah menangis. Oleh sang raja di negeri tersebut, akhirnya diadakanlah sebuah
kontes yang memberikan tantangan bagaimana agar si gajah bisa menangis.
“Seorang ekonom asal Indonesia berhasil membuat seekor
gajah menjadi menangis tersedu-sedu setelah sang ekonom
menyebutkan besarnya utang Indonesia.”
Pukul 10 pagi, dimulailah kontes tersebut. Si gajah dengan badan besarnya duduk, dan
mulailah para peserta satu per satu mengeluarkan keahliannya di depan si gajah,
mencoba membuatnya menangis. Peserta pertama adalah peniup seruling dari India.
Dengan serulingnya, ia mulai memainkan lagu sedih. Lagunya sangat mendayu-dayu
dan menyayat hati. Selama setengah jam lagu itu dimainkan, eeeh … bukan nya
menangis, si gajah malah ketiduran. Peniup seruling dari India itu pun mundur.
Peserta kedua, pendongeng anak-anak dari Swedia. Dengan bukunya, ia mulai
menceritakan kisah sedih yang pernah ia buat dan ia terbitkan di seluruh dunia.
Setengah jam berlalu, bukannya sedih dan menangis, si gajah malah melongo
mendengarkan kisah-kisah si pendongeng.
Peserta ketiga, seorang ekonom dari Indonesia.
Dengan santai, si ekonom datang ke arah si gajah yang sedang duduk, lalu
mengarahkan mulutnya ke telinga si gajah dan membisikkan sesuatu. Hanya satu
Hati-hati dengan Utang 20
menit, si gajah langsung berteriak melengking dan menangis sejadi-jadinya.
Akhirnya, orang dari Indonesia itulah yang memenangkan kontes.
Apa yang dibisikkan si ekonom Indonesia kepada si gajah?
“Utang Indonesia lebih dari Rp.3 triliun ….”
***
Itulah joke paling berkesan yang pernah saya dengar.
Mungkin Anda bilang, itu ‘kan utang Negara. Utang saya pribadi kan nggak segitu.
Eitt, jangan keburu sombong. Utang pribadi Anda mungkin memang nggak segitu,
tapi untuk ukuran perorangan, jumlah utang Anda bisa saja sudah termasuk besar.
Mau bukti? Ambillah kertas kosong. Tuliskan pos-pos utang Anda di kertas tersebut.
Pos-posnya saja. Contohnya:
Kartu kredit
Utang ke kantor
Panci ke tetangga
Beberapa di antara Anda mungkin mengatakan, “Pak Safir, saya nggak punya utang
koq.” Kalau begitu, pertanyaan saya, “Rumah yang Anda miliki sekarang dibeli tunai
atau kredit?” Kalau kredit, berarti Anda mempunyai utang.
Jadi, contohnya mungkin seperti ini:
Kartu kredit
Utang ke kantor
Panci ke tetangga
Kredit motor
Kredit rumah
Di sebelah kanan kertas anda, tuliskan berapa angka total yang masih harus Anda
bayar untuk masing-masing pos utang tersebut. Misalnya:
Kartu kredit (Rp.5,2 juta)
Utang ke kantor (Rp.6 juta)
Panci ke tetangga (Rp.175 ribu)
Kredit motor (Rp.4 juta)
Kredit rumah (Rp.37,9 juta)
Hitung jumlahnya!
Kita kadang-kadang tidak menyadari bahwa utang kita sangat banyak bila
dijumlahkan. Padahal utang-utang tersebut harus dibayar dari gaji Anda.
Nah, pada Kiat Nomor 3 dalam mengelola gaji Anda, saya hanya ingin mengatakan,
berhati-hatilah dalam berutang. Kalau tidak, bisa-bisa gaji yang Anda dapatkan
dengan susah payah habis begitu saja hanya untuk membayar utang.
Oleh karena itu, hal pertama yang harus Anda ketahui berkaitan dengan Kiat Nomor 3
ini adalah:
“Ketahui Kapan Boleh Berutang dan Kapan Tidak ….