Siapa Bilang jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya Bagian 11

2. Jalin hubungan dengan si pemberi utang.
Saya sering kali melihat banyak orang yang setelah mendapatkan utang, bukannya
menjalin hubungan dengan si pemberi utang, malah menjauh dan kadang-kadang
“menghilang dari peredaran”.
“Jalinlah hubungan dengan si pemberi utang untuk
memudahkan Anda agar bisa melakukan negosiasi apabila
kelak Anda bermasalah dengan pembayaran utang Anda.”


“Jalinlah hubungan dengan si pemberi utang untuk
memudahkan Anda agar bisa melakukan negosiasi apabila
kelak Anda bermasalah dengan pembayaran utang Anda.”
Saran saya, cobalah jalin hubungan dengan si pemberi utang. Menjalin hubungan
dengan banyak orang bisa sangat banyak berguna untuk pekerjaan dan usaha kita.
Hati-hati dengan Utang
Selain itu, menjalin hubungan bisa sangat bermanfaat kalau suatu saat Anda
mengalami kesulitan membayar utang.
Hubungan yang erat dengan si pemberi utang kadang-kadang memang bisa
membantu dalam memudahkan negosiasi kalau kelak Anda sedang tidak bisa
membayar utang. Ini memang tidak selalu mudah dilakukan, tapi cobalah sekalisekali
mengajak pemberi kredit Anda di bank untuk makan bersama. Atau, kalau
Anda meminjam dari teman, sering-seringlah melakukan kegiatan bersama
denganmya kalau waktu Anda memang senggang.
Bayangkan kalau Anda tidak menjalin hubungan!
Hubungan Anda dengan si pemberi kredit hanya sebatas hitam putih, hanya
business as usual atau hanya seperlunya saja. Garing, kan? Kalau Anda kelak lagi
nggak bisa bayar, dan mencoba bernegosiasi, sering kali negonya menjadi alot. Ini
karena sebelumnya Anda tidak memiliki kedekatan hubungan pribadi.
3. Kadang-kadang, tidak apa-apa melakukan gali lubang tutup lubang
Maksud saya, kalau kita sedang mempunyai utang dan sudah waktunya
membayar kembali, kadang-kadang kita tergoda untuk meminjam fresh money
dari pihak lain untuk menutup utang yang lama. Nah, ketika sudah waktunya
membayar kembali, kadang kita tergoda juga untuk mengambil utangan baru guna
menutup utang lama. Begitu seterusnya. Inilah yang disebut gali lubang tutup
lubang.
Dari pengalaman saya, gali lubang tutup lubang bisa dilakukan dengan kondisi
berikut.
a. Bunga dari Pihak Baru yang Anda ambil utangannya (jauh) lebih kecil
daripada Pihak Lama yang Anda utangi. Sebagai contoh, Anda berutang ke
teman sebesar Rp.5 juta dengan bunga 2% sebulan. Tidak apa-apa kalau Anda
mengambil utang baru untuk menutup utang lama kalau memang bunganya
hanya 1% sebulan.
b. Terjadi perpindahan kreditor, dari yang “kaku untuk dinegosiasikan” ke
menjadi pihak yang “lebih fleksibel untuk dinegosiasikan”. Contohnya, Anda
meminjam uang ke orang tua untuk membayar utang-utang Anda ke bank.
Orang tua jelas lebih fleksibel daripada bank kalau Anda sedang tidak bisa
membayar utang-utang Anda.
c. Sudah waktunya Anda membayar utang tapi Anda tidak mempunyai uang
sama sekali, dan bila tidak dibayar, Anda akan kena denda yang cukup besar.
Nah, boleh deh Anda melakukan gali lubang tutup lubang sepanjang utang
yang baru tersebut kelak tidak dibayar lagi dari lubang yang baru. Jangan
sampai Anda terus-menerus gali lubang tutup lubang dalam membayar utangutang
hanya gara-gara tidak mempunyai uang. Cukup sekali saja!
Hati-hati dengan Utang 27
Kiat Nomor 3
“HATI-HATI DENGAN UTANG”
Bagaimana Melakukannya?
1. Ketahui kapan sebaiknya berutang dan kapan tidak berutang.
2. Kuasai tip yang diperlukan bila Anda ingin mengambil utang atau membeli
barang secara kredit.
3. Kuasai tip yang diperlukan bila pada saat ini Anda terlanjur memiliki utang.
Sisihkan untuk Pos-pos… 28
KIAT NO. 4
Sisihkan untuk Pos-pos
Pengeluaran di Masa yang
Akan Datang
Anda pasti pernah mendengar nama PT Pegadaian.
Pegadaian adalah salah satu tempat yang bisa menerima barang yang Anda gadaikan.
Arti gadai disini adalah Anda bisa “menjaminkan” barang Anda dan mendapatkan
pinjaman uang yang besarnya mungkin sekitar 70-80% dari nilai barang yang Anda
gadaikan. Setelah satu waktu tertentu, Anda diberi hak menebus kembali barang yang
Anda gadaikan. Tentunya setelah ditambah bunga.
Salah satu masa puncak yang dialami pegadaian setiap tahunnya adalah ketika akan
memasuki tahun ajaran baru di sekolah. Artinya, setiap menjelang tahun ajaran baru
yang biasanya jatuh di bulan Juni atau Juli. Nah, pada bulan Mei, pegadaian sudah
ramai dikunjungi orang yang ingin menggadaikan barang. Ini karena setiap kali
memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua yang tidak memiliki dana cukup untuk
biaya pendidikan yang biasanya harus dibayar-kalau bisa-jauh sebelum si anak
masuk sekolah.
Tidak tepat sebetulnya kalau saya mengatakan bahwa para orang tua tidak memiliki
dana; yang lebih pas adalah “tidak mempersiapkan” dana.
“Setiap menjelang tahun ajaran baru , kantor pegadaian
selalu dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menggadaikan
barangnya untuk mendapatkan dana tunai agar bisa
membayar uang sekolah anaknya.”
Katakan saja Anda baru memiliki anak yang baru lahir di tahun 2005. Berarti, Anda
sudah tahu kapan si anak akan masuk TK, SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi.
Anda berarti juga harus tahu bahwa Anda perlu mengeluarkan uang pada tahun 2009
agar si anak bisa masuk TK. Anda juga harus tahu akan ada pengeluaran lagi di tahun
2011 untuk si anak agar bisa masuk SD. Begitu juga saat anak Anda masuk SMP,
SMA dan perguruan tinggi.
Anda mungkin tidak mempersiapkan dana pendidikan biarpun sudah tahu bahwa
Anda mempunyai kewajiban membayar biaya pendidikan tersebut. Akibatnya, begitu
tahun 2009 datang, Anda tidak mempunyai dana yang cukup untuk membayar biaya
pendidikan anak Anda untuk masuk TK. Begitu juga tahun 2011 ketika si anak masuk
Sisihkan untuk Pos-pos… 29
SD. Begitu juga ketika masuk SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Akibatnya,
pegadaian dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menggadaikan barang agar bisa
mendapatkan dana untuk membayar biaya pendidikan. Padahal, itu terjadi bukan
karena Anda “tidak punya” uang, tapi karena Anda “tidak mempersiapkan”-nya.
Saya tidak ingin membahas biaya pendidikan, tetapi saya ingin menyarankan kepada
Anda untuk mempersiapkan dana sejak sekarang agar Anda bisa membayar pos-pos
pengeluaran yang sudah pasti muncul di masa depan. Kebanyakan kita-bahkan
mungkin termasuk Anda-terjebak hidup hanya untuk hari ini, tapi melupakan bahwa
masih ada pos-pos pengeluaran di masa depan yang harus dipersiapkan.
Ada empat alasan mengapa orang tidak mempersiapkan dana sejak sekarang untuk
membayar pos-pos pengeluaran yang penting di masa depan.
1. Merasa belum urgent, toh masih lama.
2. Merasa sudah tidak perlu lagi, toh sekarang sudah punya cukup dana.
3. Merasa sudah tidak perlu lagi, toh sekarang penghasilan saya sudah cukup
besar.
4. Pasrah. Biarkan saja hidup ini mengalir seperti air, toh nanti uangnya pasti
akan datang sendiri.
1. Merasa belum urgent, toh masih lama.
Banyak orang tidak mau mempersiapkan dana sejak sekarang untuk semua
pengeluarannya di masa depan hanya karena merasa belum urgent. Toh masih
lama, katanya. Contohnya, anak Anda sekarang masih berusia 5 tahun. Anda
merasa belum perlu mempersiapkan dana untuk si anak agar bisa masuk kuliah di
usia 17 tahun nanti. Toh masi 12 tahun lagi.
Justru karena masih memiliki kesempatan 12 tahun lagi, Anda bisa menyisihkan
uang sedikit-sedikit saja dari sekarang. Sekadar info, kalau Anda terlambat
menpersiapkan dana kuliah dan baru mempersiapkannya ketika si anak berusia 14
tahun, Anda akan merasa jauh lebih berat. Waktu Anda untuk mempersiapkannya
bukan 12 tahun lagi, tapi hanya tiga tahun.
Jadi, tidak ada waktu yang terlalu dini untuk mempersiapkannya. Dalam
mempersiapkan dana untuk masa depan, time is your ally … waktu adalah sekutu.
Artinya, semakin lama waktu yang Anda miliki, semakin ringan beban Anda
untuk mempersiapkannya dari sekarang.
2. Merasa sudah tidak perlu lagi, toh sekarang sudah punya cukup dana.
Dalam sebuah seminar di Bandung, ketika saya memberikan kesempatan kepada
peserta untuk saling sharing, ada seorang peserta wanita yang maju ke depan.
Sambil memegang mik, dengan antusias ia mulai bercerita ….
“Pak Safir, saya pengusaha dengan dua anak. Beberapa tahun lalu, saya sempat
meremehkan arti sebuah persiapan. Waktu anak pertama saya masuk SD, saya
bisa membayar biaya pendidikannya dari dana yang saya miliki. Maklumlah, Pak,
bisnis saya waktu itu lagi bagus-bagusnya ….”
Hmm, boleh juga … pikir saya.
Sisihkan untuk Pos-pos… 30
Ia melanjutkan.
“Lantas, ada teman yang menawari saya untuk mengambil asuransi pendidikan
untuk anak kedua saya. Saya pikir, aah … buat apa sih ambil asuransi. Toh dana
saya untuk membayar sekolah anak kedua pasti cukup nanti. Apalagi saya
pengusaha. Nggak mungkin nggak cukup. Tapi, karena kasihan pada teman saya
yang bolak-balik terus menawari saya, saya akhirnya mengambil asuransi
pendidikan itu.”
Peserta seminar kelihatan mulai tertarik dengan ceritanya. Mereka menunggu
klimaks apa yang akan ia berikan pada akhir cerita.
“Tapi Pak Safir, tahu nggak, ketika anak saya yang kedua akan masuk SD, bisnis
saya mengalami krisis. Toko yang saya buka sejak lama dan sangat laris dengan
sangat terpaksa saya tutup karena digusur oleh pemilik gedung. Walaupun saya
punya pemasukan dari bisnis saya yang lain, tapi toko itulah yang memberikan
pemasukan terbesar buat saya. Akhirnya, asuransi pendidikan yang saya ambil
itulah yang justru menyelamatkan sekolah anak saya. Padahal asuransi pendidikan
itu saya ambil hanya karena kasihan … eh, ketika toko saya ditutup, malah saya
yang harus dikasihani. Untung ada asuransi pendidikan itu.”
Intinya, jangan terlena dengan kekayaan atau dana besar yang Anda punyai
sekarang. Bagaimana pun, itu bukan jaminan bahwa Anda bisa membayar
pengeluaran-pengeluaran di masa depan. Jaminan Anda adalah berapa banyak dari
kekayaan yang Anda sekarang yang Anda sisihkan untuk pengeluaran di masa
depan.
3. Merasa sudah tidak perlu lagi, toh sekarang penghasilan saya sudah cukup
besar.
Ah, ini sih biasa, apalagi bagi mereka yang hidup di perkotaan. Karier bagus
dengan gaji besar cenderung membuat orang merasa aman. Anggap saja Anda
ingin membeli rumah baru dalam waktu lima tahun mendatang. Anda memang
sudah mempunyai rumah sendiri sekarang dan ingin membeli rumah kedua untuk
investasi. Nanti, lima tahun lagi, begitu mungkin pikir Anda.
Dengan penghasilan besar yang didapat sekarang, kebanyakan orang berpikir
bahwa dalam lima tahun mereka pasti akan memiliki penghasilan yang lebih besar
lagi. Nah, karena ada penghasilan yang lebih besar dalam lima tahun mendatang,
pasti rumah itu bisa kebeli.
Belum tentu! Penghasilan besar Anda sekarang bukan jaminan bahwa Anda akan
mendapatkan penghasilan yang lebih besar lagi pada beberapa tahun mendatang.
PHK, resesi ekonomi, pengambilalihan perusahaan, bahkan pengurangan pegawai
besar-besaran, bisa membuat penghasilan Anda yang besar sekarang menjadi
stagnan atau lebih kecil dibanding sebelumnya.
Bahkan, kalaupun betul penghasilan Anda naik terus, jangan lupa bahwa kenaikan
harga barang dan jasa sering kali malah lebih tinggi dibandingkan dengan
kenaikan gaji Anda. Kalau gaji Anda hanya naik 10% per tahun, harga barang dan
jasa -termasuk harga-harga dari pos-pos pengeluaran Anda di masa depan-bisa
jadi naik hingga 20% per tahun.
Sisihkan untuk Pos-pos… 31
Jadi, jangan andalkan penghasilan besar Anda sekarang karena itu bukan jaminan
bahwa Anda bisa mempersiapkan dana untuk pos-pos di masa depan. Lebih aman,
sisihkan deh dari sekarang.
4. Pasrah. Biarkan saja hidup ini mengalir seperti air, toh nanti uangnya pasti
akan datang sendiri.
“Jangan pernah memiliki prinsip membiarkan hidup mengalir bagaikan air. Anda
punya pos-pos pengeluaran di masa depan yang dananya harus dipersiapkan sejak
sekarang.”
Ini alasan paling “antik” yang sudah sering saya dengar. Ratusan kali saya
mendengar kata-kata seperti ini: “Persiapan? Aaah, gak usahlah. Biarkan saja
hidup ini mengalir seperti air, nanti juga uangnya pasti ada …. Saya kan selalu
beruntung ….”
Air memang mengalir, tapi Anda ‘kan bukan air. Anda manusia yang mempunyai
hak untuk menentukan ke mana Anda dan keluarga yang Anda bawa akan
“mengalir”.
Ratusan kali pula saya melihat “orang-orang air” ini menyesal ketika waktunya
tiba. Di usia 40 atau 50 misalnya, mereka tidak bisa pergi haji seperti yang mereka
inginkan, tidak bisa pensiun sesuai dengan standar yang mereka mau, tidak bisa
liburan dengan keluarga ke tempat-tempat yang mereka impikan sejak dulu, dan
yang paling nyesek, mereka sadar bahwa umur mereka tidak bisa diulang agar
mereka bisa memperbaiki kesalahan mereka. Jangan heran kalau saya tahu ceritacerita
seperti itu karena banyak di antara mereka yang akhirnya jadi klien di
kantor saya.
Kesimpulannya, air memang mengalir. Namun, Anda adalah manusia yang
mempunyai hak untuk menentukan kemana Anda dan keluarga Anda akan pergi
mengalir. Jangan lagi asal mengikuti air yang mengalir karena kalau air itu
mengalir ke got, masa Anda mau ikut?
Pos-pos Pengeluaran di Masa Depan yang Umumnya Harus
Dipersiapkan Sejak Sekarang
Apa sih pos-pos pengeluaran di masa depan yang harus dipersiapkan sejak sekarang?
Banyak! Saya sebutkan lima pos pengeluaran yang paling sering dibutuhkan.
Lima pos pengeluaran yang paling sering dibutuhkan, antara lain:
1. Pendidikan Anak
2. Pensiun
3. Properti
4. Bisnis
5. Liburan dan Perjalanan Ibadah