Siapa Bilang jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya Bagian 7

MASALAH BESAR
PERILAKU ORANG KETIKA
MENGALAMI DEFISIT
Mengambil Tabungan
Berutang
Atur Pengeluaran Anda 13
Apa saja masalah besarnya? Banyak! Perceraian, percekcokan, harga diri turun
drastis, dan sebagainya. Mungkin Anda merasa bahwa harga diri Anda mulai turun
sejak Anda mulai menjual barang dan aset untuk menutupi utang.


“Defisit bisa menyebabkan berbagai masalah, termasuk pertengkaran antara suami
istri. Oleh karena itu, cobalah untuk tidak mengalami defisit karena defisit adalah
sumber dari segala sumber masalah.”
Kesimpulannya? Jangan sampai ada defisit! Jangan sampai pengeluaran Anda lebih
besar daripada pemasukan.
Caranya?
Atur pengeluaran Anda!
Oleh karena pengeluaran setiap orang berbeda, dan saya tidak mungkin mengetahui
berapa besar pengeluaran Anda, saya akan berikan tiga hal yang harus Anda
perhatikan dalam mengatur pengeluaran.
Oleh karena pengeluaran setiap orang berbeda, dan saya tidak mungkin mengetahui
berapa besar pengeluaran Anda, saya akan berikan tiga hal yang harus Anda
perhatikan dalam mengatur pengeluaran.
1. Bedakan kebutuhan dan keinginan.
2. Pilihlah prioritas terlebih dahulu.
3. Ketahui cara yang baik dalam mengeluarkan uang untuk setiap pos
pengeluaran.
1. Bedakan kebutuhan dan keinginan
Pernahkah Anda melihat orang yang profilnya persis sama dengan Anda? Oke,
katakan saja Anda seorang wanita berusia 30-an. Anda seorang ibu rumah tangga.
Suami anda berusia 35 tahun, ganteng, dan bekerja di sebuah perusahaan besar
sebagai manajer. Anda dikaruniai dua orang anak; satu masih duduk di kelas 1 SD
dan yang satu lagi di TK. Anda tinggal di pinggiran sebuah kota yang cukup besar
di Jawa. Katakan saja penghasilan Anda sekeluarga sekitar sekian juta rupiah
sebulan.
Menariknya, Anda melihat ada seorang wanita yang profilnya sama seperti Anda.
Berumur sekitar 30-an, ibu rumah tangga, suami berusia 37 tahun yang bekerja
sebagai manajer senior dengan penghasilan kurang lebih sama dengan keluarga
Anda. Mereka juga dikaruniai dua orang anak, yang pertama kelas 3 SD dan yang
kedua mau masuk SD. Tempat tinggal mereka pun ternyata tidak jauh dari area
Anda.
Apa yang membuat penasaran, keluarga yang Anda lihat itu-walaupun
berpenghasilan kurang lebih sama dengan keluarga Anda-bisa memiliki gaya
hidup yang serba berkecukupan. Tidak mewah, tapi cukup. Mereka sepertinya
Atur Pengeluaran Anda 14
tidak pernah kehabisan uang setiap tanggal 20 , bisa mempunyai reksadana, dan
selalu bisa membayar pengeluaran-pengeluarannya. Sementara keluarga Anda,
baru tanggal berapa, uang sudah habis; rasanya penghasilan Anda tidak pernah
cukup.
Pertanyaannya sekarang, kok bisa? Apa sih yang membedakan?
Pengalaman saya, kalau dua keluarga memiliki penghasilan kurang lebih sama,
usia sama, semua profilnya sama, tapi yang satu selalu bisa hidup berkecukupan
sementara keluarga yang satu lagi tidak, biasanya keadaan ini disebabkan oleh
perbedaan keinginan. Sekali lagi, perbedaan keinginan, bukan perbedaan
kebutuhan.
“Bedakan antara kebutuhan dan keinginan”
Ya, kebutuhan dua keluarga tersebut kurang lebih sama. Sembako, transportasi,
telepon, pulsa HP, dan seterusnya, pasti sama. Perbedaannya adalah keinginan.
Keluarga yang satu mungkin memiliki keinginan yang tidak ada batasnya,
sementara keluarga yag satu lagi tidak. Bisa juga dua keluarga tersebut memiliki
keinginan yang sama banyaknya, tapi keluarga yang satu bisa mengendalikannya
sehingga bisa memiliki tabungan dan deposito. Sebaliknya, keluarga yang satunya
lagi tidak bisa mengendalikan keinginan sehingga tidak bisa memiliki tabungan
dan deposito.
Apa beda kebutuhan dan keinginan?
Dari segi bahasa, “butuh adalah kata sifat yang menunjukkan bahwa Anda
memang harus melakukan satu hal (apa pun itu) karena memang di-“butuh”-kan.
Misalnya, membayar ini atau membayar itu yang memang menjadi kebutuhan.
Sebaliknya, “ingin” menunjukkan bahwa tindakan yang Anda lakukan lebih
karena Anda memang meng-“ingin”-kannya.
Pada kenyataannya, “butuh” dan “ingin” juga memiliki perbedaan-perbedaan lain
yang sering kali tidak kita sadari sehingga kita sering melanggarnya. Pertama,
“butuh” adalah satu hal yang harus kita prioritaskan, sementara “ingin” bisa
dilakukan dilakukan setelah yang “butuh” terpenuhi.
Namun faktanya, kebanyakan kita sering kali memakai gaji untuk hal-hal yang
memang kita “inginkan” terlebih dahulu sebelum membeli hal-hal yang kita
“butuhkan”. Jadi, pantas saja banyak orang yang sudah kehabisan uang bahkan
sebelum mereka membeli kebutuhan-kebutuhannya. Ini terjadi karena mereka
mendahulukan keinginan daripada kebutuhan.
Kedua, “butuh” umumnya ada batasnya, tapi “ingin” biasanya tidak. Kebutuhan
membeli sembako, membayar transportasi, pulsa HP, pasti ada batasan rupiahnya,
jumlahnya pasti segitu-gitu saja. Akan tetapi, “ingin”, biasanya tidak ada
batasnya. Apa pun yang Anda lihat di toko atau mal saat ini bisa jadi Anda
inginkan. Bahkan setiap kali Anda datang ke toko atau ke mal, setiap kali itu juga
biasanya keinginan Anda untuk membeli jadi besar. Tidak ada jaminan bahwa
keinginan Anda setiap bulan akan terus sama jumlahnya kalau dilihat dari
rupiahnya. Bisa jadi lebih besar pada bulan tertentu, menurun di bulan depannya,
Atur Pengeluaran Anda 15
tapi meningkat dua kali dibanding bulan pertama pada bulan ketiga. Jadi, kenapa
gaji Anda sering kali habis?
Pada beberapa kasus adalah karena kita, selain mendahulukan keinginan daripada
kebutuhan, juga memiliki keinginan tidak terbatas. Padahal, kalau hanya
difokuskan pada kebutuhan, biasanya gaji Anda cukup.
Ketiga, “butuh” biasanya tidak selalu Anda “inginkan” dan “ingin” biasanya tidak
selalu Anda “butuhkan”. Apa pun yang Anda beli karena Anda butuhkan seperti
sembako, pulsa HP, membayar telepon, listrik, dan seterusnya tidak selalu Anda
inginkan. Beberapa di antaranya bahkan tidak Anda inginkan sama sekali, tapi
karena Anda butuh, ya Anda beli. Sebaliknya, barang-barang yang Anda beli
karena memang “ingin”, kadang-kadang tidak selalu Anda butuhkan, tapi toh
Anda beli juga karena memang Anda ingin. Baju bagus misalnya (padahal baju
Anda sudah penuh sampai satu lemari), HP keluaran terbaru, atau hal-hal
semacam itu.
2. Pilihlah prioritas terlebih dahulu.
Masih ingatkah Anda berapa pos pengeluaran yang biasa Anda lakukan setiap
bulan? Mencapai 20-25 pos, bukan? Apa yang harus Anda lakukan adalah
membagi pos-pos pengeluaran tersebut menjadi 3 kelompok: Biaya Hidup, Cicilan
Utang, dan Premi Asuransi.
Biaya Hidup adalah semua pos pengeluaran yang biasa Anda lakukan agar Anda,
keluarga Anda, serta rumah Anda bisa tetap hidup.
Contohnya sembako (agar Anda dan keluarga bisa tetap hidup), telepon, listrik,
dan air (agar rumah Anda bisa tetap hidup), SPP anak dan semacam itu (agar anak
Anda bisa menjalani hidupnya), dan seterusnya.
Cicilan Utang adalah semua pos pembayaran utang yang biasa Anda lakukan
setiap bulan, seperti pembayaran cicilan rumah, cicilan kendaraan, cicilan kartu
kredit, dan seterusnya.
Premi Asuransi adalah semua pengeluaran yang Anda lakukan untuk membayar
pengeluaran-pengeluaran asuransi Anda, seperti asuransi jiwa, asuransi kesehatan,
atau asuransi kerugian, seperti asuransi rumah dan asuransi kendaraan.
BIAYA HIDUP CICILAN UTANG PREMI ASURANSI
Telepon
Listrik
Air
Sembako
Kebutuhan Rumah
Tangga (sabun, odol,
dan lain-lain)
Iuran Sampah dan
Lingkungan
Iuran Arisan
Pulsa HP
Transportasi (bensin
dan parkir/kendaraan
umum)
Cicilan Rumah
Cicilan Mobil
Cicilan Motor
Asuransi Jiwa
Asuransi Pendidikan
Asuransi Kesehatan
Asuransi Kendaraan
Asuransi Rumah
Atur Pengeluaran Anda 16
Kesehatan (vitamin,
dan lain-lain)
Perawatan Kendaraan
SPP Anak
Kursus Anak
Uang Saku Anak
Buku-buku untuk Anak
Langganan Koran
Beli Buku