Siapa Bilang jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya Bagian 5
Hitunglah jumlah pos di kolom sebelah kanan dan di kolom sebelah kiri. Betul, di
kolom sebelah kanan ada 20 pos, di sebelah kiri hanya tiga pos.
Pada seminar yang saya bawakan, saya sering melakukan permainan di atas dan
menemukan perbandingan 3:20 adalah perbandingan yang sangat biasa. Perbandingan
tersebut kadang-kadang bisa jadi 2:20 atau 1:20. Jangan kaget kalau perbandingan
tadi kadang-kadang bisa 0:20 alias orang tersebut tidak pernah menabung.
Berapa tahun sih Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan; 5 tahun? 10 tahun?
Atau mungkin sudah 15 tahun? Gila, 15 tahun bekerja, tapi sampai sekarang harta
produktif Anda baru 2-3 pos.
Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa setiap bulan kita lebih banyak membeli
barang yang termasuk harta konsumtif. Bahkan, kalau Anda perhatikan, setiap tanggal
muda setelah menerima gaji, orang selalu memenuhi mall, plaza, atau pusat
perbelanjaan hanya untuk menambah barang-barangndi rumahnya, entah itu betulbetul
diperlukan atau tidak. Ya, mall dan pusat perbelanjaan memang menjadi sentra
barang-barang konsumtif, dan sadar atau tidak, kita selalu pergi ke situ tanpa pernah
berusaha memiliki harta produktif.
Mungkin Anda berkata, “Iya sih, harta produktif saya cuma tiga, sementara harta
konsumtif saya ada 20. Tapi, dari tiga yang produktif itu kan besar-besar angkanya.”
Benarkah angkanya memang besar? Kalau benar syukuur… Jangan lupa bahwa kita
tidak berbicara angka di sini, tapi berbicara tentang jumlah pos Harta produktif yang
Anda punya. Nah, dengan perbandingan jumlah pos yang sangat berbeda, saya ingin
menunjukkan bahwa secara tidak sadar alam bawah sadar kita selalu dipenuhi
keinginan untuk membeli barang-barang yang tidak produktif. Buktinya, Harta
Konsumtif Anda jauh lebih bervariasi daripada Harta Produktif.
“Tapi kan Harta Konsumtif saya berguna,” kata Anda. “Teve, radio tape, kan ada
gunanya … Teve saya tonton, radio tape saya dengar.”
Betul, ada gunanya, karena itu disebut konsumtif.
Pertanyaannya sekarang, apakah Anda tidak boleh mempunyai barang konsumtif?
Apakah Anda tidak boleh mempunyai teve, radio tape, komputer, busana atau barangbarang
konsumtif lainnya? Atau bahkan apakah Anda tidak boleh bermimpi untuk
mempunyai handphone tipe terbaru yang diiklankan di teve? Boleh-boleh saja, tapi
jangan lupa menumpuk dan menambah koleksi harta produktif, supaya kelak kalau
gaji Anda berhenti, Anda bisa tetap mempunyai penghasilan dari Harta Produktif.
Beli dan Miliki Sebanyak Mungkin … 7
Harta yang Bisa Memberikan Penghasilan
Seperti sudah saya utarakan, yang harus Anda lakukan adalah memiliki sebanyak
mungkin Harta Produktif. Bahkan, inilah langkah pertama yang harus Anda lakukan
setelah mendapatkan gaji: menyisihkan sebagian untuk dibelikan Harta Produktif.
Jangan mengira Harta Produktif itu sesuatu yang sangat mahal dan hanya bisa dimiliki
dengan uang sangat banyak. Jangan lupa, produk tabungan di bank pun tergolong
Harta Produktif kalau Anda memakainya untuk investasi dan tidak pernah diambil,
biarpun pada saat ini bunganya kecil.
Apa saja yang bisa yang digolongkan Harta Produktif atau harta yang bisa
memberikan penghasilan untuk Anda? Prinsipnya, hanya ada empat kelompok besar
Harta produktif yang bisa Anda miliki. Kita bisa lihat dibawah ini:
a. Produk Investasi
b. Bisnis
c. Harta yang Disewakan
d. Barang Ciptaan
a. Produk Investasi
Produk investasi adalah salah satu jenis harta yang bisa memberikan penghasilan
kepada Anda, baik penghasilan rutin maupun penghasilan yang hanya sesekali
atau bahkan hanya sekali saja. Produk investasi yang bisa memberikan
penghasilan rutin biasanya berbentuk Produk Investasi Pendapatan Tetap. Produk
ini biasanya memberikan bunga dan jumlah nominal uang yang investasikan tidak
akan berkurang.
Contohnya, deposito di bank. Deposito adalah produk dimana Anda menaruh uang
di bank selama jangka waktu tertentu, kemudian pada saat jatuh tempo Anda akan
mendapatkan bunga dan tidak lupa uang yang Anda taruh di bank akan
dikembalikan. Bagaimana dengan tabungan di bank? Apakah ini juga tergolong
Produk Investasi Pendapatan Tetap? Ya, karena produk tabungan di bank
memiliki prinsip yang hampir sama dengan deposito. Bedanya, pada deposito
uang Anda “dikunci” dan tidak boleh diambil sampai jangka waktu tertentu, dan
pada tabungan uang Anda tidak “dikunci”. Inilah yang membuat produk tabungan
di bank bisa saja digunakan untuk investasi. Hanya saja pada praktiknya, karena
kecilnya bunga dan fleksibilitas dalam pengambilan, orang sering kali tidak lagi
menjadikan produk tabungan di bank sebagai tempat investasi, tapi hanya sebagai
tempat menyimpan. Bila ada rekrening tabungan yang Anda perlakukan seperti
ini, Anda harus menggolongkannya ke dalam Harta Konsumtif.



